Home / Daerah / KLINIK ANUGRAH DI DUGA BELUM MEMILIKI IJIN PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS

KLINIK ANUGRAH DI DUGA BELUM MEMILIKI IJIN PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS

SEKADAU. Metro Aktual Nusantara.com : Klinik Anugerah berdiri megah di sudut Terminal Lawang Kuari Sekadau.
Keberadaan klinik sangat bermanfaat bagi masyarakat Sekadau, Namun sayang klinik tersebut di duga belum memiliki izin yang lengkap terlebih menyangkut izin pengelolaan limbah karena di kuatirkan dampak nya bisa membahayakan warga sekitarnya.
Klinik seharusnya adalah tempat pelayanan kesehatan yang di rancang di operasikan dan dipelihara dengan sangat memperhatikan aspek kebersihan bangunan dan halaman, baik fisik, sampah, limbah cair, air bersih dan serangga atau hewan pengganggu.
Limbah klinik yang tidak memenuhi syarat yang sesuai ketentuan dapat menyebabkan mencemari lingkungan penduduk di sekitar klinik tersebut dan menimbulkan masalah kesehatan.
Sebagai pelayanan kesehatan klinik Anugerah hampir sama fungsinya dengan Rumah sakit dan Puskesmas. Oleh sebab itu, keduanya harus ada ijin lingkungan dalam bentul UKL-UPL. Namun klinik Anugrah di sekadau di duga tidak memiliki ijin pengelolaan limbah medis .
“Klinik anugrah atas nama Gabriel memang ada mengajukan ijin tapi sampai sekarang tidak di lanjutkan. Dulu baru ada Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah (SPPL) karena sesuai dengan pangajuan dia waktu itu. Namum setelah itu tidak ada lagi perpanjangan sejak tahun 2013,” kata Aswadi kepala bidang Amdal Badan Lingkungan Hidup kabupaten Sekadau.
Menurut Aswadi, karena Klinik tersebut menampung rawat inap, maka dia harus ijin lingkungan dengan UKL-UPL, anehnya kenapa ijin lingkungan belum ada lalu ijin-ijin lain bisa terbit misalnya SIUP dan SITU padahal untuk menerbitkan kedua ijin tersebut harus ada ijin Lingkungan.
Aswadi juga mengaku, belum tahu kemana Limbah klinik itu di buang. karena bagaimanapun limbah itu sangat berbahaya bagi warga sekitar, karena limbah bekas jarum suntik dan limbah lain yang pastinya mengandung bakteri berbahaya bagi kesehatan manusia, tutur Aswadi.
Sementara itu Gabriel, Direktur PT. Trimitra Anugerah Husada ketika di konfirmasi mengatakan bahwa dirinya melalui orang lain pernah mengurus ijin tersebut, hanya saja sejak berdiri sampai sekarang belum selesai-selesai.
“Saya sudah mengurus ijin tersebut, melalui orang lain. Tapi belum selesai-selesai sampai sekarang. Mudah-mudahan ijin saya cepat keluar. Nanti saya coba cek lagi ke BLH kabupaten Sekadau. Udah selesai atau belum,”kilahnya.
Sementara menurut UU.No.9 tahun 1990 tentang pokok-pokok kesesatan menguraikan:
Limbah klinik dapat mencemari lingkungan penduduk di sekitar klinik tersebut dan menimbulkan masalah kesehatan.
Menurut dari berbagai sumber medical hal ini di karenakan dalam limbah klinik dapat mengandung berbagai jasad remik penyebab penyakit pada manusia.
Termasuk demam Thyroid, Cholera, Disentri dan Hepatitis. Sehingga limbah harus dapat diolah sebelum di buang ke lingkungan (Bapedal).
Limbah klinik dibagi menjadi 8 bagian:
1. Limbah benda tajam seperti jarum hipodermik, pipet Pasteur, pecahan gelas atau kaca, pisau bedah yang dapat menciderai melalui sobekan atau tusukan benda-benda yang terbuang mungkin sudah terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikro biologi, bahan beracun/radioaktif
2. Limbah Infeksius,
Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular yang meliputi organ, anggota badan, darah dan cairan tubuh, sampah mikro biologis, limbah pembedahan, limbah unit peralatan terkontaminasi.
3. Limbah jaringan tubuh
Organ anggota badan, placenta, darah dan cairan yang dibuang saat pembedahan/autopsy.
4. Limbah citotoksik
Limbah bahan yang terkontaminasi selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi dan harus dibakar dalam Incinerator dengan suhu diatas 1000″c.
5. Limbah farmasi
Berasal dari obat-obatan kadaluarsa yang terbuang karena sudah tidak dipakai lagi atau dikembalikan pasien karena tidak diperlukan lagi.
6. Limbah kimia
Yang dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan medis, petenary, laboratorium, proses sterilisasi dan riset.
7. Limbah plastik
Dari bahan-bahan plastik yang dibuang oleh klinik dan juga pelapis peralatan/perlengkapan medis.
8. Limbah radioaktif
Bahan yang terkontaminasi dengan radio isotope yang berasal dari penggunaan medis dan riset Radionucledia, dari tindakan kedokteran nuklir yang dapat berupa padat, cair dan gas.
Kegiatan Rumah sakit/klinik menghasilkan berbagai macam limbah, berupa benda, cair, padat dan gas.
Pengelolaan limbah klinik adalah bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah klinik tersebut.
Depkes telah mengupayakan instalasi pengelolaan limbah klinik yang kurang baik akan menjadi tempat yang baik bagi “Vector” penyakit seperti lalat, kecoak, semut, tikus dan lain-lain.
Pada prinsipnya klinik harus mempunyai fasilitas atau (UPL) Unit Pengolahan Limbah.
1. Kolam stabilisasi air limbah.
2. Kolam Oksidasi air limbah.
3. Anaerobic filter treatmen system’.
Jangan langsung dibuang ke Septy tank. seperti itu.

Keberagaman sampah/limbah klinik memerlukan penanganan yang baik sebelum proses pembuangan.
Karena apabila pengelolaan limbah tak dilaksanakan secara saniter akan menyebabkan gangguan bagi masyarakat di sekitar dan pengguna limbah medis.
Agen penyakit limbah klinik memasuki manusia (host) melalui air, udara, makanan, alat atau benda…,!! ( Jhon )

About adminMetro2%$

Check Also

H EKA : BPBD BUKAN HANYA PENANGGULANGAN SAAT BENCANA, TETAPI JUGA PENCEGAHAN DAN PERSIAPAN SEBELUM TERJADI

Share this on WhatsApp  H EKA : BPBD BUKAN HANYA PENANGGULANGAN SAAT BENCANA, TETAPI JUGA …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *